Showing posts with label nature. Show all posts
Showing posts with label nature. Show all posts

Monday, July 28, 2008

Praying Dog

Praying dogI found out about this dog from detik but since the article was written as lame as usual, I search for other source: this and this.

The dog's name is Conan (1,5 year old) (named after Arthur Conan Doyle), a long haired Chihuahua .

He learned the position by imitating his master in a Zen Buddhist temple in Japan.

"I think he saw me doing it all the time and got the idea to do it, too," Yoshikuni said.

He is just too cute to ignore, hehehe :D

Tuesday, July 22, 2008

Cane Toad

Cane Toad
Di salah satu TOEFL test yang pernah aku ikuti beberapa tahun lalu IELTS test practice yang aku ikuti tahun lalu, ada materi reading test tentang Cane Toad. Disebutkan kalau Cane Toad didatangkan dari Hawai dan digunakan sebagai usaha alami/biologis untuk membasmi hama Cane Beetle yang menyerang tanaman tebu di Australia.

Rasanya ini ide yang bagus kan?

Tapi sayang kenyataannya ga begitu. Setelah didatangkan, si makhluk kecil menjijikkan tidak-terlalu-menarik ini malah ga mengkonsumsi si Cane Beetle. Seingatku karena beetle-nya makan daun di tempat tinggi dan larvanya makan akar dalam tanah sehingga Cane Toad-nya ga bisa memakan mereka. Ujung-ujungnya, karena begitu giat berkembang biak, si Toad ini bertambah banyak dan malah menjadi hama di Australia.

Lah, terus kenapa tiba-tiba ngomongin makhluk tak menarik ini?
Hehe, tadi pas nonton national geographic di TV (tumben banget kan), si Cane Toad ini dibahas. Pembahasannya mengenai mereka sebagai hama dan penanggulangannya.

Bertambah banyaknya Cane Toad menjadi masalah di Australia. Selain mendiami banyak lahan dan bersaing untuk resource alami dengan banyak makhluk setempat, si Toad yang ternyata beracun itu membahayakan biodiversitas (terjemahan sotoy dari Biodiversity.. eh, rasanya di perasaan biologi dulu ada padanannya: Keanekaragaman Hayati). Dilaporkan kalau populasi ular, burung, dan sejumlah reptilia menurun drastis. Ini terjadi karena mereka mati segera setelah sok jago memakan Cane Toad.


The spread of Cane Toads in Australia from 1940 to 1980 in 5-year intervals
(taken from Wikipedia)

Sekarang ini mereka sudah tersebar luas di seluruh Australia.

Cara penanggulangan agak nyeleneh yang pernah dipakai adalah dengan menjadikan Cane Toad sebagai bagian dari 'olah raga'Cara penanggulangan agak nyeleneh yang pernah dipakai adalah dengan menjadikan Cane Toad sebagai bagian dari 'olah raga'. Cane Toad diperlakukan seperti bola dalam permainan golf dan cricket. Metode ini ditentang oleh kelompok pemerhati (peri ke)binatang(an).

Akhirnya peneliti berusaha mencari cara untuk mengatasi Cane Toad. Salah satu yang menarik adalah fakta bahwa mereka bereaksi terhadap sinar ultraviolet. UV light yang juga biasa dipakai di dance floor itu menarik perhatian serangga-serangga makanan si Toad dan akhirnya membawa Cane Toad masuk kotak perangkap. Kotak-kotak perangkap itu disebar di alam bebas dan berhasil menangkap banyak Cane Toad sampai berplastik-plastik besar yang kemudian dibekukan untuk membunuh mereka.

Terus, Cane Toad yang berhasil ditangkap sampai berplastik-plastik itu diapain? Apa dikirim ke club-club golf dan cricket?

Ternyata tidak. Sebagian besar diproses menjadi pupuk dan sisanya dijadikan souvenir, seperti dompet koin. Emangnya ada yang mau ya?

Saturday, May 03, 2008

Keukenhof


Tanggal 26 April yang lalu, dari TU Delft ada rombongan 250 orang international student yang berangkat ke Keukenhof. Soalnya ada tiket gratis dari International Office, hehehe :D

Deskripsi Keukenhof berdasarkan websitenya sbb(malas ngetik lagi):
Welcome to Keukenhof! Nowhere else in the world are the flowers and colours of the spring as glorious as at Keukenhof. Here you can find endless inspiration while you relax in the beautiful surroundings of the park. Keukenhof offers you the opportunity to see millions of bulbs in flower, fantastic flower shows and the largest sculpture park in the Netherlands and is the most photographed place in the world. Enjoy the spring!
Come to Keukenhof above all don’t forget to bring your camera!


Nah, gitu ceunah.. Dan Keukenhof ini juga cuma buka beberapa minggu doang pas saatnya bunga2 bermekaran.

Dan di situ betul-betul penuh dengan bunga-bunga yang lagi mekar (ya klo ngga, berarti kena diboongin :p). Manusia-manusia yang mengunjunginya juga banyak banget, numpuk di pintu masuk. Untungnya makin ke dalam, makin lega. Keukenhofnya luas banget.

Untuk orang-orang yang ga segitu ingin taunya dengan detail bunga, sebaiknya ga usah maksain untuk ngeliat seluruh areanya klo ga punya banyak waktu. Soalnya di beberapa bagian isinya bunga2 yang sama, hanya bentuk kebunnya bervariasi (Mesti diliat dr langit, ada yang bentuk naga segala). Lebih baik bersantai di salah satu area, sambil piknik sama teman-teman misalnya. Daerah sisi danau lebih baik. Tapi ada juga area yang ada hewan-hewannya (keledai, babi, makhluk kayak ayam, kelinci, dll), maze, wigmam Indian, rumah kaca, windmill, dll.

Sayang waktu kunjungan dr TU Delft-nya terlalu singkat. Jam 1an-4 sore. Ga jadi liat parade bunga (yang katanya bakal ada hari itu).

Si makhluk gendut, lucu, dan enak, huehuehuehe..


Sunday, March 23, 2008

Paskah

Hahaha..
Hari ini lucu
Paskahnya bersalju

*yeap, pas lagi kebaktian tiba2 turun salju.. Pas Natal malah ngga*
Ntar ada lagu baru: I'm dreaming of a white Easter.. khekhekhe..

Tuesday, March 18, 2008

Roti keringku

Karena malas masak nasi, aku lebih sering mengandalkan roti dan mie (eitts, bukan mie instant ya) untuk bertahan hidup..

Dulu biasanya beli roti tawar untuk bikin sandwich dengan berbagai variasi isi: telor dadar, tuna salad, egg salad, rundvlees salade (apa ya terjemahannya, salad sapi? eh, salad daging sapi), lembaran keju, botterhamworst, Schouderham, ato Kipfillet. Tentunya dengan ditemani mayonaise dan sambal ABC extra pedas, hehehe.

Atau kalau lagi pengen yang manis, pake selai apel (jarang2 sih), dan Vruchtenhagel (khasnya Belanda jg, ceunah mahh).

Masalahnyaaa... Roti tawar yang kubeli klo dibiarkan kena udara kamar sebentar aja, udah langsung kering dan jadi keras. Makanya akhirnya aku beralih ke Witte Bollen ato Puntjes (yg bentuknya kayak roti buat hamburger atau hotdog) yang lebih empuk dan awet empuk..(aiiyahh)

Tapi kemaren abis makan roti itu, aku lupa nutup plastik bungkusnya.. Pas ngeh, udah keras de rotinya.. Karena kesal, kutaburin gula aja.. Setelah ditinggal lebih lama, akhirnya jadi kayak bagelen kering, heahahahaha Kering dan renyah..

Boleh juga ni dibuat dengan sengaja.. Tapi lain kali dicoba pake olesan margarin ato selai jg kali ya.. Ga perlu oven, cukup dgn mengandalkan udara Belanda.

PS: Jangan2 bagelen kering di bandung (dan luar bandung) itu adanya karena orang Belanda yg main2 (baca: menjajah) ke Indonesia ya?

Saturday, February 09, 2008

[Today I] Sunny Day

Another series of 'Today I' posts.

Today I shopped in Tanger vleescentrum for the first time. I also went to Xotus to buy some coconut milk for my 'rendang' tomorrow and a pack of Indomie Goreng (yumm!). Got home and put all things in the fridge.

I got downstairs again to do my laundry, only wearing a T-shirt, Bali shorts, and sandals. I decided to go to Albert Heijn in front of my student housing to grab some vegetables. As expected, people's eyes are on me. They were all wearing at least 3 layers of clothes Some elders observed me using the corner of their eyes. A guy clearly checking me from head to toe as we passed by. A girl even looked twice, I guess not believing what she saw. I couldn't help chuckling, khikhikhi.. I met Endang, who lived in the same building with me, and she finally stated what people's thought in words Well, the weather was nice and sunny, it still is as I write this, and the supermarket is just a few meters away.

I will go to the Sport Centrum tonight for a Dumplings Party organized by TU Delft and Chinese Student Association (in celebration of Chinese New Year. Gong Xi Fat Choi!). We'll have a dumplings workshop, dinner, fireworks, and a movie. Can't wait.

Thursday, February 07, 2008

O Lady, Leave That Silken Thread

Beberapa hari ini mulai terliat tunas2 yang baru tumbuh dari tanah.. Rata2 dengan cepat udah ada kuncup bunga segala.. Waaa, Spring is coming ya..

Sambil nontonin tunas2 itu pas naik sepeda mo ke kampus (blom sempat moto ni), tiba2 teringat lagu O Lady, Leave That Silken Thread (SSATBB) dari Gustav Holst. Di PSM-ITB, aku nyanyi lagu itu pas konser 2002, dengan didirigenin Elson.

Salah satu lagu dari Four Part-songs-nya Holst yang mewakili musim semi. 3 lagu lainnya: Soft & Gently (SSA), The Autumn Is Old (SATB), dan Winter and The Bird(SATB).

Ahh, jadi pengen nyanyi lagu itu :) *tapi udah lupa bo.. cm ingat depannya*


PS: Aku pengen dengar compositionnya Holst yang The Planet Suite de.. Kayaknya keren banget! :D Tapi blom sempat cari-cari..

The Planets Suite Op. 32 (1916)
  1. Mars, the Bringer of War
  2. Venus, the Bringer of Peace
  3. Mercury, the Winged Messenger
  4. Jupiter, the Bringer of Jollity (main theme:"I Vow to Thee, My Country")
  5. Saturn, the Bringer of Old Age
  6. Uranus, the Magician
  7. Neptune, the Mystic

Thursday, January 03, 2008

Snowing again

After the white days, no more snowing in Delft. No white Christmas. Surprisingly, the winter days are bright and sunny.

This afternoon I went to the bank & supermarket, wearing only sandals for my footwear. What I didn't expect was the wind blowed snow here and there.

I didn't mind the cold, it's a nearby supermarket & bank. I chuckled seeing a bank officer stared at my sandals when I entered the bank.

Well, welcome back ice & snow!

Friday, December 21, 2007

Still White Day

Haaa.. Yesterday I wasn't able to tell more about the white day. I had class early morning and after class I had to go to Amsterdam for a visit to ABN Amro Business Incubator. I came home at 9.30 last night.

During the day, when I was in class, Mads (Denmark guy) pointed towards the window and said,"Look, it's snowing outside."

Indeed. Soon after class, I rode my bike to the train station and joyfully enjoy the snow, hehehe.. (norak kali pun). The trees and grass were covered in ice while the wind blew the snow away and towards me. Oh God, thank You for such beauty

This morning I open my door again in the hope of another white day (last night in Amsterdam, the icy trees were not so icy anymore because of the somewhat heaten up wheater). And These are the views in front of my 13th-floor-room.























Thursday, December 20, 2007

White day

I open my door today for going to the faculty...
And I see white everywhere...!!!

The world is covered in ice!!!

Well, I have to go to class now, I'm posting from the faculty.

Oh, I'm so excited..!!!!! :D

Friday, November 09, 2007

Hujan es

Tadi siang sepulang kuliah, Edwin ngajakin minum-minum (eh, konotasinya kok jelek ya :D) di sebuah kafe di Centrum. Cuaca mendung sejak tadi pagi dan dingin banget. Sekali-sekali turun hujan rintik-rintik.. (Kayaknya 'Gerimis Mengundang' bisa jadi theme song yang cocok, hehe..)

Aku bareng Xiaojing, Mai, dan Amin naik sepeda ke Centrum dan menunggu Edwin(yang naik bus) di depan Zuidpoort.

"Tik tik tik", ahh hujan lagi..

"Tuk tuk tuk", eh kok sakit kena hujannya.. (lagian bunyinya gitu :p)

Ternyata hujannya bukan air, tapi butiran es kecil-kecil.. Hahaha, pantasan kenanya sakit.
Untung hujan esnya cuma bentar.

Sunday, October 21, 2007

Thursday, July 26, 2007

Trip To Bali : Leaving Singaraja For Kuta

Minggu, 8 Juli 2007
Minggu pagi, Bli Kadek udah memanggilkan 2 andong yang ditarik kuda (kali aja ada yang mengira ditarik kerbau, hehe). Aku, ST, Windu, Mbok Wi, dan Lowlyetha (anjingnya.. Gaya banget ya namanya, hehe) diajak jalan-jalan naik andong keliling kota Singaraja sampai ke Pantai Lovina. Mestinya di Lovina ini bisa pergi naik kapal ngeliat lumba-lumba. Tapi karena ga sempat, ga jadi. Dari Lovina kita pulang ke rumah dan lanjut lagi pergi ke Pemandian Air Panas Banjar (Holy Hot Spring). Air panasnya sih enak. Aroma belerangnya juga ga terlalu menyengat. Hanya aja kain putih yang dipake berendam di situ bisa jadi kekuning-kuningan. Di perjalanan pulang ke rumah Windu, mampir sebentar di sebuah rumah makan untuk nyicipin Sio Bak. Hmm, masakan babi yang ini ga gitu cocok dengan seleraku, manis sih.

Dari rumah Windu pamitan sama Bapaknya Windu, karena kami mau balik ke Kuta dan ST mau pulang ke Jakarta malamnya.

Sebelum sampai Denpasar, kami mampir dulu ke Bedugul. Di situ ada Pura Ulun Danu dan Danau Beratan. Danau dan Pura ini dijadikan gambar di uang pecahan Rp.50.000,- kita. Kami berperahu sebentar di danau itu. Tarif perahunya (dengan orang yg mendayungkan tentu saja) Rp.45.000,- selama 1/2 jam untuk 5 orang. Ada pilihan juga untuk naik speedboat. Tapi ga asyik ahh.. Lebih enak berperahu dengan santai di situ. Bisa parasailing juga disitu, tapi di sisi lain danau dari tempat yang kami kunjungi. Sempat beli souvenir2 lagi untuk oleh2, lumayan bisa nawar murah juga di sini.

Sesudah ngantarin Mbok Wi ke penginapan trainingnya, ST ke bandara dan ngantarin aku ke Hotel Bakung Sari, Windu dan Ibunya pulang ke Singaraja. Thanks banget ya Ndut! :D Hendro dan keluarganya lagi pergi keluar. Jadi setelah naro barang di kamar, aku pergi cari makan malam dan jalan-jalan. Ehh, nemu satu tempat gede yang jual kalung, gelang, tas, sandal, dan souvenir lainnya. Dan karena di tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian, harganya muraaah banget. Dan udah harga pas ga bisa ditawar lagi, bahkan kalau beli banyak sekalipun. Kata si Bapak penjual, orang lain emang sering beli dari dia untuk dijual lagi. Dia emang ga jual mahal karena emang bukan di tempat keramaian. Malahan dia bilang orang dari provinsi lain sering pesan ke dia untuk dijual lagi. Hmm, aku pun meminta kartu namanya, kali aja mau buka counter penjualan souvenir Bali di Bandung, huehehehee..

Abis itu pergi jalan-jalan ke Kuta lagi sendirian. Jalan kaki aja dari hotel. Lumayan jauh sih, 15 menit jalan kaki lah, tapi bisa sambil liat2 barang dagangan. Emang dasar lagi jalan sendirian, di sepanjang jalan itu beberapa kali aku ditawarin "massage". Biasanya dengan diawali,
Dia: "Ojek Mas..?"
Aku: "Ngga Mas"
Dia: "Kalau pijat aja mau..?" (lahh.. dia profesi ganda ya?)
Dia: "Cantik-cantik lho. Bisa dipilih" *pasang muka mesum* (lohhh.. makin menjurus)
Aku: "Ngga Mas"
Dia: "Atau mau yang ganteng?"
Aku: "Hahh?" *Kabur*

Malam-malam di Kuta tetap aja rame. Sayang banget ga sempat liat sunset di Kuta. Ahh, tak papalah. Ntar aja kapan-kapan (kapan lagi emangnya, yeey..).

Pulang ke hotel, si Buluk dah dalam posisi tidur. Trus dia bilang kalo tadinya dia naik taxi dari hotel ke Kuta seharga Rp.50.000,-. Yah, emang klo sendirian bisa enak jalan kaki exploring the area. Dia kan bareng kakak, adek, dan tante, jadinya mesti memperhatikan tingkat kenyamanan tertentu bagi wanita. Katanya juga, tarif internet di daerah situ Rp.15.000,- per jam. Malahan ada yang tarifnya Rp.300,- per menit alias Rp.18.000,- per jam. Males deeeh..

Oh iya, Hendro nerima sms yang bilang flight AirAsianya yang jam 1 siang besoknya di delay sampe jam 17.45. Gubraak deeh. Lama banget delaynya.

Trip To Bali : The Temple, The Lake, and The Shoppings

Sabtu, 7 Juli 2007
Di tanggal cantik yang jadi incaran para pasangan yang hendak menikah ini (07/07/07), Windu sekeluarga dan umat Hindu lainnya melakukan sembahyang untuk Perayaan Kuningan. Sembahyang pertama dilakukan di pura keluarga yang ada di halaman rumah. Di Hari Raya Kuningan ini, hidangan makanannya adalah nasi kuning dengan lauk pauknya.

Di rumah Windu jg bisa liat berbagai binatang peliharaannya. Mulai dari anjing, burung-burung, angsa, landak, sampe kelelawar. Emang kebun binatang deh itu, hehe :D

Sehabis upacara, kita berangkat ke sebuah pura. Sebelum masuk ke pura, kita harus berpakaian sopan. Jadi kami yang pake celana2 pendek dan jeans dipakaikan sarung Bali (yang dibawa dari rumah). Kalau ga bawa sarung, ada sarung yang disewakan untuk turis. Pedagang2 di sini cukup gigih juga, jadi turis juga perlu cukup gigih mengelak dan menghindar kalau emang ga mau beli. ST dan Hendro sekeluarga mungkin pantas dikira turis asing dan diajak ngobrol dalam bahasa Inggris, Mandarin, atau Korea, hehehe. Tapi ntah kenapa aku juga tetap disapa, "Where are you from, Sir?" Whaat?? Kayaknya tampangku Indonesia pisan deh.. Ato mereka mengira dari daerah Afrika ato Asia terpencil sana? Grrr..
Di dalam area pura, ada sebuah wihara. Ternyata memang dari dulu Budhisme dan Hinduisme berkembang bersama di Bali. Jadi selagi Windu dan keluarganya sembahyang di pura, Hendro dan keluarganya sembahyang di Wihara itu; dan aku sama ST foto-foto (teteeeup!! :D)

Dari situ kita berangkat ke Kintamani. Dari dataran tinggi itu kita bisa melihat Gunung Batur yang masih aktif dengan sisa-sisa lahar berupa tanah kehitaman di kaki gunungnya. Di sebelahnya ada Danau Batur. Tempat kami berdiri di Kintamani itu sebenarnya adalah punggung gunung Batur Tua. Setelah gunung tua meletus, terbentuklah Danau Batur dan sebuah anak gunung, yang jadi Gunung Batur baru. Kalau kita menyeberangi Danau Batur, kita bisa mengunjungi Trunyan, tempat jenazah-jenazah tidak dikuburkan tapi diletakkan saja dan bisa awet tanpa pengawet buatan manusia. Tapi kami ga ke Trunyan, karena ga cukup waktu. Kalau ke Kintamani ini, bersiaplah diserbu para pedagang. Dari yang nawarin kaos, gelang, kalung, kartu pos, lukisan, ukiran, dan lain-lain. Kalau emang mau beli, lakukanlah tawar-menawar yang agak kejam. Harga barang dagangan itu bisa turun sampai seperlimanya :D Kaos yang harganya pertama Rp.35.000,- sebuah bisa menjadi Rp.50.000 dapat 6. Bahkan ada seorang ibu yang diam-diam berbisik, mau ngasih Rp.50.000,- untuk 8 kaos :D Tapi harus hati-hati aja, supaya jumlah barang yang dikasih betul2 sesuai dengan yang dijanjikan. Cek dulu kualitas barang yang kita beli dan cek lagi jumlah barangnya seblom mereka bungkuskan.

Dari Kintamani, kita mengunjungi Pura Besakih, pura terbesar di Bali. Di area pura ini ada pura-pura lebih kecil milik keluarga-keluarga raja/ksatria jaman dulu. Puranya emang besar dan megah banget. Kami mendaki tangga yang lumayan banyak untuk mengunjungi Pura keluarga Kesiman (keluarganya Windu). Nama yang tertera adalah Pedharman Arya Kenceng. Pedharman itu tempat sembahyangnya dan Arya Kenceng itu nama leluhurnya Windu. Di tempat ini, Windu sekeluarga sembahyang lagi. Sehabis itu, kami berpindah ke area pura utama. Di situ, Windu sekeluarga sembahyang lagi.

Dari Pura Besakih, kita menuju Pasar Sukowati. Pasar ini rame banget. Di sini banyak benda2 seni maupun pakaian2 yang bisa dijadikan oleh-oleh. Tentunya di tempat ini tawar-menawar mesti lebih kenceng :D Contohnya celana pendek yg harga awalnya Rp.45.000,- akhirnya bisa dibeli dengan harga Rp.15.000,-. Di sini aku jg beli 2 udeng lagi yang mirip dengan 2 udengku yang pertama. Hanya aja yang baru kubeli warnanya ungu dan merah terang. Udeng jenis itu biasanya ditawarin Rp.15.000,- sampe Rp.20.000,-. Tapi aku udah pernah bisa menawarnya Rp.10.000,- di tempat lain. Sambil liat2 barang lain, aku ngeliat ada seorang pembeli yang nampaknya udah borong banyak, lagi nawar2 udeng yang tadi kuincar. Segala pujian dah dikeluarkan penjual sama mbak itu. "Duhh, cantiknya.. Lihat cantik sekali dengan make kain ini." Aku dan Windu ketawa2 aja dengarnya. Akhirnya mbak itu berhasil menawar udeng itu seharga Rp.12.500,- 2 buah. Mungkin karena dia dah borong banyak kali ya. Dengan ga menyia-nyiakan kesempatan, aku ikutan bilang ke penjual itu klo aku juga mau udeng itu 2 buah seharga Rp.12.500,- (setelah si mbak itu pergi) :p Heahahaha, sukses besar! Di pasar ini juga ada yang nawarin bikin tato temporer.. Bisa dapat Rp.5000,-. Jauh banget harganya dibandingkan waktu di Kuta. Tapi ya bedalah ya.. Di Kuta gitu lhoo.. Harga2 lebih mahal.

Abis dari Sukowati, kita ngantar Buluk kembali ke Hotel Bakung Sari sementara aku dan ST ikut Windu kembali ke Singaraja.

PS: Foto-fotonya nyusul yeah..

Trip To Bali : The Beach, The Monument, and The Artcraft

Jumat, 6 Juli 2007
Menu breakfast di penginapan Cempaka II itu agak ajaib juga nama2nya: Banana Jaffle, Choco Banana Jaffle, dan Jaffle2 lainnya, ntah apapun Jaffle itu. Kami sih cuma ngetawain aja menu itu Tapi begitu breakfastnya datang, ternyata berwujud 2 potong roti bakar dengan isi selai, pisang, dan coklat. Ditemani potongan2 pisang, semangka, dan segelas susu. Lumayan juga. Eh, tapi ternyata Mbok Wi juga udah sempat beli nasi ayam (Yang dulu bernama Nasi Jinggo karena harganya Rp.1000,-. Berhubung harganya dah ngga segitu, jadinya disebut nasi ayam aja). Nasinya dibungkus berbentuk kerucut seperti tumpeng. Nasi ayamnya enak.

Jemput Hendro dkk di Bakung Sari dan lanjut ke Pantai Kuta. Ternyata gayanya si Windu klo cerita tentang Bali emang layak dipercaya Oh iya, itu emang termasuk salah satu misi perjalanan kali ini, membuktikan kata-kata si Ndut yang nyombong2in Bali. Tapi setelah kami bilang misi itu, dia malah panik sendiri dan buru2 sok merendah, hehehe. Tapi emang terbukti kok kata2nya, what a beautiful island.

Standar kenarsisan manusia, di pantai itu tentu ga luput dari acara foto2 (Ya iyalah bo'. Gila aja lu ga foto2 di pantai itu [Turis Mode: ON]). Di situ juga si Buluk sama kakak adiknya (Erna & Diana) bikin tato. Setelah tawar-menawar, mereka sepakat dengan harga Rp.30.000,- per tato. Di pantai ini kita juga bisa ngepang-ngepang rambut. Humm, brapa ya harganya kmaren ini Klo ga salah Rp.30.000,- untuk rambut Erna yang panjang dan Rp.15.000,- untuk rambut Diana yang pendek. Pedagang kalung dan gelang juga banyak. Mbok Wi dan ST beli kalung lucu yang setelah ditawar jadi dapat Rp.10.000,- satunya. Tapi pas lagi ngepang2 itu, ada pedagang lain yang nawarin kalung yang mirip dengan harga Rp.5000,- hehehe. Tapi biasanya mereka berpesan,"Saya kasi harga segini, tapi jangan bilang-bilang ke yang lain ya" Anta (a.k.a. Nengock) yang kerja di Denpasar ikut bergabung dengan kami sambil bawa Wisnu, pacarnya (Wisnu itu cewek lho ). Aku, ST, dan Hendro beli gelang kembaran dengan harga Rp.10.000,- 3 buah (mode turis banget ga sehh, hehehe). Sayang si ibu penjual ga mau ngasih Rp.10.000,- 4 buah. Klo ga, kan bisa berempat dengan Windu.

Dari Pantai Kuta, kita pergi mengunjungi Monumen Bom Bali I di Legian. Foto-foto bentar dan lanjut ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park. Katanya tempat ini sering dipake buat pertunjukan-pertunjukan gede. Ada biaya masuk, Rp.10.000,- per orang dan Rp.5000,- per mobil. Tempatnya emang luas banget, dengan pemandangan tebing-tebing cadas yang dibentuk seperti dinding-dinding raksasa. Di area ini dibangun patung Garuda dan patung Wisnu. Ceunah sih belum selesai patung-patungnya. Misalnya patung Wisnunya, masih belum utuh tangannya. Tapi udah nampak keren banget deh, patung-patungnya. Untuk mendekati patung-patung itu, kita mesti mendaki tangga di bukit-bukitnya. Dengan tetap berfoto-foto tentunya.

Lucunya, ada beberapa pria, turis dari Cina tampaknya, yang minta foto bareng ST dekat patung Garuda. Mungkin mereka agak takjub juga melihat di Indonesia ada gadis Chinese nu geulis dan bisa bahasa Mandarin kayak ST, huehehe. ST gitu loooh.. Para pria kesepian nan malang itu tampak bersuka cita sesudah foto bareng ST, huehehe. Pas pindah ke lokasi patung Wisnu, ketemu lagi sama mereka. Lagi-lagi ST diajak ngobrol, dan kali ini diminta foto bareng juga dengan Hendro, Erna, Diana, dan Tante. Tampaknya mau reuni turis Tiong Hoa, hehehe.

Dari GWK, kita mau makan siang di Pantai Jimbaran. Nengock yang meng-guide kita, naik motor bareng Wisnu. Kita diajak ke rumah makan (apa ya namanya). Setelah nerima welcome drink (huff, jus jeruk dingin emang pas banget untuk cuaca panas di Pantai Jimbaran siang-siang. Liat pasir pantai aja silau). Di situ kita pesan 2 Ikan bakar, 1 ikan goreng, dan cumi goreng tepung (Ikannya Rp.9000,- per 100 gram). Service-nya termasuk tumis sayuran dan buah untuk dessert. Oh iya, ada bonus 100 gram masakan kerang dari orang rumah makannya. Huff, enak juga. Malahan sampe berlebih.. Belum jago nih perhitungan porsi makannya

Dari Pantai Jimbaran, kita bisa liat pemandangan laut dengan sejumlah kapal nelayan yang lagi nge-tem di tepi laut. Tapi yang paling keren itu ngeliat pesawat-pesawat yang akan landing di bandara, hwii.. Pantai Jimbaran ini lebih sepi daripada Pantai Kuta. Jadi kalau mau bersantai dengan tenang, pantai ini adalah pilihan yang bagus. Di pantai tempat kami makan siang ada rombongan pengamen. Kami udah liat mereka ngamen di pantai restoran sebelah. Mereka bawain lagu-lagu kayak lagu2 Amerika Latin gitu di depan bule2 yang lagi santai. Pas sampe di tempat kami, mereka minta ijin ngamen dan mulai bawain lagu-lagu mandarin, huahahaha.. Mungkin karena ngeliat ST dan Hendro sekeluarga Trus mereka pindah ke restoran sebelah lagi, dan nyanyiin lagu pop biasa, hehehee. Hebat juga pengamennya. Udah customized terhadap aneka ragam turis

Abis makan siang, kita mengunjungi Pasar Kesenian Bali yang kebetulan lagi ada. Di sini Hendro, aku, dan Windu beli udeng Bali. Aku dah punya 2 udeng sebenernya. Satu warna merah yang dipake waktu ICT ke Choir Olympic di Bremen dan satu lagi warna hijau oleh-oleh dari Windu pas jaman kuliah. Banyak udeng siap pakai, tapi aku ga suka motif2nya (Klo ga terlalu heboh, ya terlalu ngampung, ato terlalu motif Jawa) dan aku nyari yang masih bentuk lembaran kain, ga mau yang siap pakai. Akhirnya aku beli yang warna putih dengan motif sederhana dan ga terlalu mencolok seharga Rp.15.000,- dari tawaran semula Rp.45.000,-.

Dari PKB, rencananya kita mau singgah ke Bedugul dulu seblom ke Singaraja, tapi ga jadi karena kemalaman. Dari Denpasar ke Singaraja makan waktu skitar 2 jam. Katanya dulu pusatnya Bali itu adalah Singaraja, sebelum dipindahkan ke Denpasar. Di Singaraja ada patung Singa Ambararaja (temannya Sisingamangaraja kali ya, hehehe). Singa ini jadi simbolnya Singaraja. Gosip dari Windu (memang dia biang gosip), kalau malam-malam patung itu jadi hidup dan singa bersayap itu terbang malam-malam.

Di Singaraja, aku dan ST nginap di rumah Dekndu. Hendro nemanin keluarganya dulu di Hotel di Singaraja, baru nyusul nginap di rumah Ndu. Makan malamnya membuat kami akhirnya mencicipi masakan babinya Bali. Ada yang namanya Tum, daging babi dibungkus daun pisang seperti pepes. Rasanya gurih, menurutku mirip sangsang-nya Batak. Ada Sate Babi, rasanya manis. Kata Windu masakan Bali emang biasa manis. Trus ada abon daging babi, berwujud daging babi disuir-suir dan digoreng kering. Aku suka banget yang ini Sambil ngobrol dengan Bapak dan Ibu Windu, sambil ngemil Kacang Manalagi dan Salak Bali. Buseet itu kacang emang bikin ga bisa brenti ngambil dan ngambil lagi..

Sepanjang perjalanan dan sepanjang malam, pastinja ga lepas dari gosip-gosip terbaru dan cela-mencela tentang masa kuliah dan masa bekerja, huehehehe.. Miss that a lot pals!

Wednesday, February 28, 2007

Pasukan Simpanse Bersenjatakan Tombak

Waahh, simpanse-simpanse ini semakin pintar.
Simpanse Mengenal Tombak untuk Berburu
FONGOLI, SENIN - Simpanse-simpanse yang tinggal di Senegal terlihat menggunakan tombak untuk menyerang primata lain yang lebih kecil. Temuan ini tentu mengejutkan para ilmuwan karena bisa memberi petunjuk bagaimana manusia belajar menggunakan alat berburu.

Baca selengkapnya di sini
Hehehe, mungkin ga ya nanti para simpanse itu mengadakan invasi bersenjatakan tombak dari rimba sana ke daerah-daerah manusia?

Wednesday, September 20, 2006

Deep Sea Angler

Itu sih namanya dalam Bahasa Inggris. Nama Indonesianya apa ya? Ikan Lentera? Aku pertama kali liat ikan jenis ini dari buku Ensiklopedia Ikan yang dibeli mamaku dari sales yang datang ke rumah. Intinya sih, ini salah satu jenis ikan laut dalam. Penampakannya emang jelek dan nyeremin yaa..

Fitur yg menarik dari ikan ini ya lentera-nya itu. Istilah lain untuk lenteranya adalah Photophore. Lentera itu dipake untuk memancing calon mangsa untuk mendekat (Walopun yang kebayang, tampang si ikan ini makin serem dengan ada cahaya di depan mukanya :evil:). Tadinya kukira si lentera itu selalu nyala, tapi ternyata dari artikel-artikel yang kubaca si lentera itu ON OFF. Dari artikel lain lagi, ternyata yang bikin nyala lenteranya itu adalah keberadaan bakteri-bakteri khusus yang menguasai teknologi (walaah..) bernama Bioluminescence. Persis seperti kunang-kunang. Btw, brarti si bakteri dan si Deep Sea Angler itu bersimbiosis mutualisma dong? Hmm, tampaknya demikian. Perlu baca2 lebih lanjut :D

Lenteranya itu kan emang menarik perhatian banget, tapi ternyata ada lagi hal yang unik dari si Deep Sea Angler ini. Yaitu kehidupan seksualnya (kyahahaha.. :)))
Jadi ya, seperti beberapa makhluk hidup lain, Deep Sea Angler yang betina emang lebih populer dan mencolok. Deep Sea Angler yang jantan ukuran tubuhnya lebih kecil dan beda dari yang betinanya (Yup, gambar yang beredar pada umumnya itu gambar ikan betina). Terkait dengan kehidupan seksualnya, si jantan ini harus menggigit si betina di sisi tubuhnya dan nempel di situ dengan menggunakan gigi seperti kait. Setelah nempel, pembuluh darahnya akan bersatu dengan pembuluh darah si betina, dan bakal selama hidupnya dapat supply makanan dari betina. Jadi seperti parasitlah. Nah, setelah nempel itu jugalah baru si jantan bisa ngoper sperma untuk melanjutkan kehidupan generasi selanjutnya. Satu betina bisa ditempeli beberapa jantan lho. Hee, kayak selebriti aja ya :D Klo ada jantan yang gagal nempel di betina, ya matilah dia kelaparan. Pejantan yang malang.. :D