Tuesday, August 09, 2005

Ironi..

Heran juga ngeliat kelakuan orang-orang Indonesia. Yah, mungkin hal ginian juga terjadi di tempat-tempat lain di seluruh dunia. Tapi kita-kita yang tinggal di Indonesia ini, yang notabene menganut azas praduga-tak-bersalah (ceunah), masih aja sering banget bertindak sebagai hakim yang atas orang lain.

Hmm, ga jelas ya lagi ngomongin apa. Gini deh, coba buka berita dengan judul "Diteriaki Istri Pembunuh, Herawati Pollycarpus Shock"


Link itu merujuk ke berita mengenai perlakuan aktivis-aktivis HAM terhadap istri Polycarpus, tersangka pembunuhan Munir (aktivis HAM juga).
Kutipan sebagian berita di link yang telah diberikan:

Massa juga berusaha menghampiri Polly, tapi petugas kepolisian segera mengamankan Polly dan membawanya keluar dari ruang sidang. Setelah Polly diamankan petugas, mereka mengalihkan sasaran pada istri Polly, Herawati.

eorang aktivis pria berambut panjang menghampiri Herawati dan berkata, "Hei, kamu istri pembunuh!" Para aktivis lainnya, yang berdiri di belakang si gondrong, pun ikut berteriak, "Istri pembunuh! Istri pembunuh!"

Herawati, yang selama mengikuti persidangan suaminya tampak tenang, menjadi shock. Dengan wajah memerah Herawati bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap orang-orang yang meneriakinya tersebut sambil berkata lantang, "Terima kasih, terima kasih. Kita buktikan saja nanti!" Wanita berkulit putih yang mengenakan blus warna abu-abu tua dan celana warna gelap itu kemudian menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Tapi si aktivis berambut panjang tidak menyambut ajakan bersalaman, dan hanya menjawab, "Anda akan rasakan nanti kalau Anda menjadi janda juga." Herawati pun kembali membalasnya dengan ucapan terima kasih. "Terima kasih Anda mengatakan itu. Kita buktikan saja nanti," tukasnya.

I have no idea who is right and who is wrong. Whether Polly is one of the murderer of Munir or not. And that is not the point I want to talk about.

Yang pasti, setauku, di saat Polly sedang disidang, belum ada kejelasan apakah dia pembunuh Munir atau bukan. Sampai ada keputusan dari pengadilan, Polly belum bisa dicap sebagai pembunuh oleh publik. Toh, pengadilan sejak dulu sudah disepakati(ingat ya, disepakati) oleh bangsa ini sebagai lembaga yang menentukan keadilan. Jadi betul-betul mengherankan tindakan orang-orang yang mengaku aktivis HAM itu. Mereka sudah terlebih dulu menetapkan Pollycarpus sebagai pembunuh. Yang lebih parahnya, mereka membawa-bawa istri Pollycarpus dalam hinaan-hinaan mereka. Apa seperti itu kelakuan aktivis HAM? Setidaknya salah satu HAM itu adalah kebebasan. Dan aku yakin istri Pollycarpus juga berhak untuk bebas dari tuduhan-tuduhan yang belum tentu benar. Bahkan seandainya pun benar Pollycarpus yang membunuh Munir, istrinya tetap tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu. Para 'Aktivis HAM' yang bertindak seperti itu justru sudah menempatkan istri Polly pada posisi yang lebih rendah di mata mereka, sebagai istri (orang yg dituduh sbg) pembunuh.

Mengkhawatirkan kalau orang-orang yang mengaku sebagai aktivis HAM tersebut justru melanggar HAM itu sendiri.

2 comments:

eleora said...

mungkin para aktivis itu juga beranggapan: di sini kebebasan mengeluarkan pendapat diatur dalam undang-undang... jadi mereka ngerasa sah-sah aja buat berkomentar apapun... hmmm..jadi teringat ada mahasiswa demonstrasi pemerintah soal kelangkaan bahan bakar minyak,,, sementara mereka demo pake acara bakar-bakar ban yang berarti itu pake minyak tanah...ironi juga kan ya? ironi yang bodoh....

Anonymous said...

Masih mending ironis dr pada basi. Namanya juga manusia..(mudah2an nyambung komentar aku. soalnya ga baca sama sekali)